Islam: Spirit Perlawanan Terhadap Belanda

[segerabangkit]
Jikakita menelusuri buku-buku sejarah Belanda dan Indonesia maka akan kitatemukan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme Belanda disebabkan olehpenindasan dan eksploitasi yang dilakukan oleh Belanda. Kita pun akanmenemui bahwa perlawanan tersebut karena keinginan Indonesia untukmeraih kemerdekaan. Perlawanan rakyat Indonesia tidak ada hubungannyadengan Islam atau Kekhalifahan Islam.
Untungnya,bagi mereka yang mencari kebenaran, Perpustakaan Kerajaan Belandabaru-baru ini menyediakan di internet isi koran-koran Belanda padaperiode 1618 - 1995. Ulasan pada koran-koran terbitan lama itu dapatmemberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa bersejarah sepertiyang ditulis saat peristiwa-peristiwa itu terjadi. Dengan menggunakaninformasi yang tertulis dalam koran-koran tersebut, periodekolonialisme Belanda di Indonesia dapat dicek ulang secara independen.Dengan informasi tersebut itu pula, ‘sudut pandang’ dalam buku-bukusejarah yang beredar saat ini dapat diverifikasi ulang.
Beritadalam koran-koran yang terbit di Belanda selama periode 1850-1930menuliskan pendapat umum, bahwa Islamlah yang menyebabkan rakyatIndonesia ‘memberontak’. Misalnya koran Algemeen Handelsblad menuliskan pemberontakan pada tahun 1859 di Bandjarmasin. Koran tersebut menuliskan artikel: Kamitelah melihat bahwa, menurut laporan-laporan yang diterima oleh misterVan Twist dari sumber-sumber sangat terpercaya, bahwapemberontakan-pemberontakan di bagian selatan-timur Borneo jelas bisaditandai bercirikan Islam atau anti-Eropa. Artinya, menurut koran Algemeen Handelsblad, perlawanan masyarakat Indonesia—di seluruhbagian Nusantara baik itu di Banjarmasin, di Borneo dan di bagian laindi Indonesia—semuanya disebabkan karena spirit Islam.
Tahun 1864, koran Algemeen Handelsblad juga menurunkan tulisan tentang kerusuhan di Tegal: SeorangTroeno telah mencoba mengajak orang-orang Tegal untuk memberontakterhadap kekuasaan Eropa. Rupanya dia menggunakan fanatisme sebagaialatnya. Yang dimaksud dengan kata fanatisme pada koran-koran pada waktu itu adalah Islam.
Pada tahun 1885, koran Het Nieuws van den Dagbahkan mengatakan bahwa rakyat Indonesia melihat perlawanan merekasebagai jihad dengan motivasi murni dari Islam. Jihad dalam bahasaIndonesia diterjemahkan sebagai perang sabil (perang suci): DiSukabumi, sekarang rakyat memiliki lima tempat di manakelompok-kelompok agama bisa berkumpul. Orang-orang yang ikut dalamkelompok-kelompok ini, yang merupakan kaum fanatik, tetap berkumpul setelah sholat Jumat untuk membahas Perang Sabil, Perang Suci.Dari fakta di atas tidak sulit untuk membayangkan bahwa perlawananIndonesia terhadap penjajahan Belanda didorong oleh semangat Islam.
Pada tahun 1894, koran Algemeen Handelsblad menulis bahwa Islam menjadi spirit perlawanan: …Sebabpemberontakan di Pulau Lombok yang paling mungkin, menurut mereka,sebagaimana menurut Mister Willemsen, adalah disebabkan oleh fanatismeIslam.
Koran Het Nieuws van den Dag pada tahun yang sama juga mencatat ada hubungan perlawanan di Indonesia dengan bulan puasa Ramadhan: Kemarin, dekat Anak-Guleng terjadi penembakan. Bulan puasa telah dimulai dan seorang yang syahid selama Perang Sabil ini tentu mendapat balasan surga.
Selamabeberapa tahun kemudian, koran itu terus menyalahkan Islam atasterjadinya pemberontakan di Indonesia. Sebagai contoh pada tahun 1904,koran Het Nieuws van den Dag menulis: Pada saat ituorang-orang memberitahukan bahwa di Sukabumi terjadi ‘kerusuhan dengankekerasan’ yang menunjukkan kemiripan yang terjadi dengan kerusuhan diSumedang dan Sidoarjo. Dia menganggap kerusuhan-kerusuhan itudiakibatkan oleh fanatisme.
Pada tahun yang sama koran itu menulis tentang pemberontakan-pemberontakan di tempat-tempat lain:Kekuatan yang datang dengan fanatisme adalah salah satu hal yang kitaharus sangat perhatikan. Baru-baru ini, kekuatan-kekuatan ini telahberjalan lancar, seperti yang dapat terlihat di Jambi, Korintji, diKepulauan Gaju. Tragedi di Tjilegon, yang merupakan seruan bagifanatisme di tempat-tempat lain, dan sekarang terjadi pemberontakan diGedanggan, mereka semua membuktikannya. Kejadian-kejadian di Sidoarjo,pada dasarnya terjadi di depan mata dua garnisun tentara kita,menunjukkan kepada kita kekuatan ini.
Hingga tahun 1908, ternyata penyebab perlawanan rakyat Indonesia tidak berbeda. Koran Het Nieuws van den Dag menulis: Sekarangkita tahu bahwa ada sebuah sekte Muhammad, de Satria, memiliki tanganatas semua ini – dan lagi membuktikan bahwa pemerintahan Indonesiatidak dapat bertindak terlalu tegas terhadap sikapfanatisme ini yang menerima motivasi dari barat, yang merongrongotoritas kami dan menimbulkan bahaya terus-menerus. Perang Suci melawan“kaum kafir” terus didengungkan, dan hampir sama sekali tak terdugaselama pertengahan bulan ini perlawanan yang sangat serius meletus lagi.
Pada tahun 1910, koran Sumatera Post juga menyalahkan Islam atas pemberontakan di Padang: Sejakhari-hari pemberontakan itu, tanda-tanda fanatisme menunjukkan bahwa iaterjadi secara teratur, dan melalui hal itu menjadi jelas berapa banyakdaerah di Pariaman, di wilayah-wilayah dataran rendah Padang, merupakantempat-tempat berkembang biak kaum Muslim (Mohammadans) yang fanatikdari sekte Satria yang menurut laporan pejabat, juga terutamabertanggung jawab atas perlawanan bersenjata pada tahun 1908.
Komentar-komentarkoran-koran ternama Belanda saat itu mengenai kasus-kasus perlawanan diIndonesia menjelaskan bahwa ada konsensus di Belanda, bahwa Islamadalah penyebab yang nyata atas perlawanan tersebut. Islam dilihat olehBelanda sebagai akar penyebab, bukan nasionalisme. Jadi, tidak benaryang dikatakan buku-buku sejarah di Indonesia perlawanan terhadappenjajahan Belanda hanya dilakukan karena aspirasi-aspirasinasionalistik.

Selamaperiode 1850-1930 sebagian besar koran-koran Belanda menuliskan bahwasemua masalah Belanda di Indonesia dimulai dengan ibadah haji MuslimIndonesia ke Makkah. Sebagai contoh pada tahun 1859, seorang analiskoran Algemeen Handelsblad menulis: “Opini publikmengatakan bahwa penyebab kerusuhan terutama dapat ditemukan atasmeningkatnya jumlah jamaah haji ke Makkah, dan peningkatan itumengakibatkan meningkatnya fanatisme, yang karenanya penduduk pribumimemiliki motif untuk memberontak terhadap Kekristenan dan dominasiEropa.
Pada tahun 1866, koran De Locomotief menulis: “Bahayaatas keselamatan rata-rata orang-orang Jawa atas peningkatan jumlahjamaah haji adalah sangat tidak diremehkan. Bahaya ini adalah sebuahfakta, tanpa keraguan sama sekali.
Paraanalis lain kemudian menjelaskan dengan tepat mengapa haji merupakanawal dari semua masalah Belanda di Indonesia. Sekali lagi koran De Locomotief menulis (1877): “Semakin banyak peziarah yang berangkat ke Makkah, semakin meningkatlah fanatisme.”
Dengankata lain, Belanda melihat hubungan antara haji dan kekuatan keyakinanIslam di antara rakyat Indonesia. Hal ini karena ibadah haji untukjamaah haji Indonesia juga merupakan kesempatan untuk belajar lebihbanyak tentang Islam. Pada periode 1850-1930 Khilafah Islam atau Caliphatemasih ada. Hijaz, wilayah sekitar Makkah dan Madinah yang dikunjungipara peziarah, masih menjadi bagian dari Kekhalifahan. Jadi, ketikaorang-orang Indonesia pergi haji, mereka pergi ke sebuah negeri yangdibangun berlandaskan Islam. Di Makkah orang-orang termotivasi olehnegara untuk belajar dan memahami Islam. Jamaah Indonesia mengambilapa-apa yang mereka pelajari di sana dan ketika kembali ke Indonesiaberbagi dengan sesama Muslim di Indonesia.
Laluapa yang begitu ditakuti Belanda mengenai pengetahuan tentang Islam diantara orang Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini adalah apa yangdisebut Belanda sebagai “pan-Islamisme”. Sebagai contoh, sebuahanalisis di koran Nieuwe Rotterdamsche Courant (1915) mengatakan: “Dimasa lalu, adalah mungkin untuk menyesali keinginan yang berlebihan diantara kaum Muslim (Mohammedans) di Indonesia untuk pergi haji, karenaberbagai alasan. Sebagian dari mereka datang karena pengaruhpan-Islamisme di sana, dan kemudian ketika mereka kembali, memilikipengaruh yang kurang diinginkan atas rekan-rekan senegaranya.
Seorang analis menulis untuk koran Het Nieuws van den Dag (1911) mengatakan: “Tidakperlu bagi kita untuk berbicara tentang fanatisme di antara sebagianbesar jamaah haji yang kembali. Hal ini bahkan lebih berbahaya di zamandan usia kita, sekarang pan-Islamisme sedang berusaha untuk membuatterobosan mana-mana.
Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan istilah ‘pan-Islamisme’ ini dijelaskan oleh surat kabar Nieuw Tilburgsche Courant (1900): “Istilahpan-Islamisme dipahami oleh orang-orang Eropa sebagai makna aspirasi dikalangan umat Islam untuk bersatu dalam sebuah negara. Dalam bentuk apapan-Islamisme menemukan asal-usulnya? Dalam hukum Islam ortodoksmenyebutkan bahwa semua umat Islam (Mohammedans), dengan tidakmemandang bangsa dan bahasanya, harus menjadi salah satu komunitas yangideal, dan bahwa semua penguasa Islam harus mengakui satu penguasatertinggi. Apakah konsekuensi dari hal ini? Bahwa seorang penguasakafir, sebagai masalah yang prinsipil, tidak akan pernah diterima olehkaum Muslim (Mohammedans) ortodoks sebagai penguasa mereka yang sah.Dengan kata lain, suatu bahaya yang tak terbantahkan pada tingkat yanglebih besar atau lebih kecil bagi setiap negara Kristen yang menanganimasalah kaum Muslim.
Seperti juga dikatakan koran Algemeen Handelsblad (1910): “Ceramah-ceramahyang menjelaskan bahwa bagi kaum Muslim (Mohammedans) hanya adapemerintahan Khalifah—Sultan Turki—yang merupakan pemerintahan yangsah, dan bahwa mereka melihat setiap pemerintahan lain sebagai tidaksah, karenanya hal ini termasuk juga pemerintahan kita (atasIndonesia). Dengan kata lain, ajaran-ajaran mengenai Khilafah bagi kitaadalah unsur yang sangat berbahaya.
Dengankata lain, Belanda menyadari bahwa Negara Islam/Khilafah merupakansebuah pilar Islam. Belanda menyadari bahwa pilar Islam ini memotivasiumat Islam di Indonesia untuk terus-menerus melawan pemerintahankolonial Belanda. Hal ini persis sama dengan apa yang dimuat koran Het Nieuws van den Dag (1897): “Pemerintahkami bisa mendapatkan banyak masalah dari hal ini, karena bagi kitajuga Pan-Islamisme adalah musuh terbesar dan terkuat bagi perdamaian diwilayah jajahan kita, seperti juga bagi semua negara Eropalain yang melihat banyaknya kaum Mohammedans yang mereka tangani ataubangsa-bangsa yang mereka tundukkan.
Pemerintah Belanda menyadari hal ini, seperti yang ditunjukkan oleh sebuah laporan koran Nieuw Tilburgsche Courant (1898): “Selamadiskusi mengenai anggaran pemerintahan kolonial di Indonesia untuktahun 1899, mister De Waal Malefijt menyatakan keprihatinannya ataspeningkatan agama Islam di Indonesia, yang menyebabkan meningkatnyapengaruh pan-Islamisme.

Hubungan Perlawanan di Indonesia dengan Khilafah

[segerabangkit]
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang/pejabat Belanda bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada Khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga negara Khilafah [Negara Islam].
Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.”
Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda. Sebagaimana yang diakui Koran Sumatra Post tahun 1922: “Pada hari ini, serangan-serangan atas kami menjadi hal penting karena merupakan sikap mentalitas atas ide Perang Suci.
Pan-Islamisme: Konsulat Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Kaum Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).” Ini adalah artikel Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 11 November 1912.
Ada kontak teratur antara kaum Muslim Aceh dan Khalifah di Istanbul. Sebagai contoh, kaum Muslim Aceh mengirim delegasi kepada Khalifah untuk memberitahu situasi mereka dan meminta bantuan dan dukungan Khalifah. Pada tahun 1915, Sumatera Post kembali menyebutkan satu delegasi tersebut, yang dikirim ke Istanbul pada tahun 1868:
Yang lebih penting adalah kontak langsung antara penduduk asli Aceh dan pemerintah Turki. Tidak kurang dari 68 orang bangsawan memohon kepada Khalifah selama tahun 1868 untuk ‘membebaskan mereka dari perbudakan asing, yakni dari orang Belanda. Karena, mereka mengatakan, ‘hal ini semakin besar dan semakin berbahaya dari hari ke hari, dan pada saatnya mereka akan mengendalikan seluruh Aceh’. Karena itu, mereka, orang-orang Aceh itu, meminta ‘dikirimkan tentara dan prajurit, dan mengumumkan kepada semua orang-orang asing bahwa kami (orang-orang Aceh) berada di bawah perlindungan dan merupakan warga negara Khalifah’.
Namun, Khalifah hanyalah satu sisi rakyat Aceh. Koran Nieuw Tilburgsche Courant melaporkan pada tahun 1899 bahwa Negeri Islam Al-Khilafah memberikan pendidikan kepada putra-putra Sultan, untuk mendukung perlawanan mereka melawan Belanda:
Selama beberapa hari terakhir seorang koresponden di Constantinopel melaporkan lagi bahwa tujuh anak bangsawan sudah tiba di sana dan telah diperkenalkan kepada menteri pendidikan, karena mereka akan mengambil pendidikan tinggi. Kaum Muslim dari Jawa telah mengirimkan kepada Sultan (Khalifah) surat ucapan terima kasih karena mengambil anak-anak mereka untuk bisa pergi ke sekolah-sekolah di Negeri (Islam) Sultan itu. Sebagai konsekuensinya, sudah empat belas pemuda dari Indonesia yang dikuasai Indonesia telah menerima pendidikan Islam yang ketat, yang sepenuhnya dibiayai oleh Sultan Constantino-pel. Setelah mereka kembali ke tanah air mereka, setelah menimba ajaran Islam akan menjadi pejuang yang alami bagi Quran, untuk melawan ‘anjing-anjing Kristen’ yang memerintah negara mereka.
Khalifah juga mengirimkan perwakilannya ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim. Koran Het Nieuws van den Dag, misalnya, melaporkan tentang seorang konsul dari Khalifah di Batavia bahwa dia mendukung gerakan pan-Islam: “Di Indonesia hanya ada satu konsul, yakni di Batavia, dan dia telah menunjukkan antusiasme yang besar bagi pan-Islamisme. Oleh karena itu, pemerintah memintanya untuk diganti.”
Koran yang sama menginformasikan pembacanya pada tahun 1912 bahwa Khalifah mengirimkan misi rahasia ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim Indonesia: “Konsul Belanda di Konstantinopel telah memperingat-kan pemerintah bahwa utusan rahasia Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai Belanda, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).”
Kerjasama juga terjadi sebaliknya. Tatkala Khalifah mengambil keputusan untuk membangun jalur kereta api Hejaz, Koran Het Nieuws van den Dag mengatakan pada tahun 1905:
Raja Boni telah memberikan 200 Poundster-ling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam. Pada saat yang sama, utusan itu menyerahkan kepada (Khalifah) surat penguasa Boni, di mana ia meminta dukungan Khalifah bagi dirinya sendiri dan sekutunya, atas kesulitan mereka dengan para penguasa Belanda.
Pan-Islamisme di provinsi Timur kami: Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam”. Ini adalah artikel di Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 17 Juli 1905.
Karena hubungan erat antara kaum Muslim Indonesia dan Negara Islam Al-Khilafah, para analis di Belanda mulai khawatir ketika Inggris dan Prancis (antara lain) mulai melakukan kejahatan terhadap kaum Muslim Negara Islam: “Aku takut bahwa kaum Mohammedans kami akan merasakan ketidakadilan yang sedang dilakukan sekarang. Pemberontakan dan ketidakpuasan akan meningkat, baik di Belanda maupun Indonesia.” []

Penjajah Belanda: Hentikan Khilafah!

[segerabangkit]
Koran-koran Belanda periode 1850-1930 memperjelas rencana pemerintah Belanda tentang apa yang akan dilakukan dalam rangka menangani pemberontakan dan membawa Indonesia kembali di bawah kendali. Sebagai contoh, Belanda membuat rencana aturan dan undang-undang untuk melarang orang-orang Indonesia pergi Haji. Koran Het Nieuws van den Dag menulis pada tahun 1884, “Pada masa lalu, kami memiliki peraturan yang dibuat untuk membatasi perjalanan haji ke Makkah sebisa mungkin.”
Koran-koran itu mengacu pada peraturan Haji tahun 1859, di antaranya para calon jamaah harus memenuhi tuntutan keuangan tertentu; mereka pun harus melapor kepada konsulat Belanda di Jeddah pada saat kedatangan mereka sehingga pemerintah Belanda bisa mengawasi mereka. Namun demikian, keinginan untuk pergi haji tetap kuat di antara orang Indonesia, dan pengaruh motivasi dari para peziarah yang kembali untuk melawan Belanda tetap kuat. Laporan dari koran Het Nieuws van Dag pada tahun 1904 menyebutkan: “Tidak butuh waktu lama atas pengaruh perjalanan ke tempat-tempat yang aneh itu dan apakah itu yang dirasakan menetap sebentar atau lama di Makkah. Gerakan pan-Islam adalah konsekuensinya. Ada suatu masa ketika orang-orang memandang berlebihan pengaruh haji ini. Namun pada hari ini, orang-orang meremehkan mereka (jamaah haji). Karena mereka adalah seperti bahan bakar, yang menjadi berbahaya ketika ada seseorang yang menyalakannya. Pemerintah harus mengawasi hal ini.”
Karena Belanda tidak bisa begitu saja melarang haji—yang pasti itu akan menyebabkan pemberontakan massal di Indonesia—sebagian analis menyarankan pemerintah Belanda untuk memastikan kontrol yang lebih kuat atas mereka yang pergi haji. Koran Nieuws van den Dag pada tahun 1884 menerbitkan sebuah opini yang menyarankan pemerintah Belanda mengirim mata-mata bersama dengan orang-orang yang pergi Haji: “Bukanlah di masjid, atau di langgar benih-benih kebencian keagamaan dan fanatisme sedang ditaburkan, benih-benih itu ditaburkan di desa-desa dan kampung-kampung dan rumah-rumah terpencil dari penduduk pribumi. Itu adalah tempat dimana ibadah haji membuat permainan liciknya. Penduduk Indonesia Eropa yang bisa diandalkan, yang berbicara bahasa Java, Melayu, Soenda atau bahasa Madoera, harus dikirim ke tempat-tempat (Makkah, Madinah) oleh pemerintah sebagai polisi rahasia.”
Tahun 1885 pemerintah Belanda akhirnya mengirimkan seorang orientalis terpentingnya, yakni Christiaan Snouck Hurgronje, ke Makkah untuk memata-matai umat Islam Indonesia untuk mengikuti nasihat ini.
Begitu mereka kembali ke Indonesia, pemerintah Belanda berusaha membatasi pengaruh haji ini. Pada tahun 1889, sebuah opini di surat kabar Algemeen Handelsblad menyarankan pemerintahan kolonial untuk mengkontrol masjid dan madrasah sedemikian rupa sehingga pelajaran-pelajaran yang diajarkan tentang Islam berada di bawah kendali: “Hal ini tidak bisa dipahami. Mereka melihat kejahatan. Mereka memperingatkan tentang hal itu dari berbagai sudut. Namun, mereka tetap tumbuh! Ini telah menjadi sikap pemerintahan kolonial kami selama beberapa tahun terakhir terhadap ajakan untuk memberontak yang berasal dari pan-Islamisme. Mister Van den Berg meyakinkan kita bahwa ceramah-ceramah yang dibacakan di masjid-masjid ‘merupakan ruh paling jahat terhadap kekuasaan Kristen’. Oleh karena itu, kami mempertimbangkan kontrol yang layak atas ide-ide yang sedang diajarkan dan yang merusak aturan hukum kita. Hal ini perlu.”
Rasa takut dan benci atas Islam dan Negara Islam sedemikian kuatnya sehingga pemerintah kolonial Belanda mengambil saran seperti yang satu ini, dan setiap Muslim yang berbicara tentang Khilafah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara: “Undang-undang bagi pribumi mengancam setiap pemimpin agama dengan kerja rodi mulai dari tiga bulan sampai lima tahun, jika dalam ceramah umum ia mengkritik pemerintah atau menyeru kebencian terhadapnya, atau memotivasi masyarakat untuk melawan atau memberontak.”
Namun, menurut sebagian analis, langkah ini belum cukup. Dalam koran Het Nieuws van den Dag, pemerintah disarankan untuk menjadikan pembicaraan tentang Negara Islam sebagai tindakan pengkhianatan: “Barangsiapa menghidupkan kepada penduduk pribumi gagasan yang sesat yang ada hubungannya dengan Khalifah Turki, pada dasarnya melakukan suatu tindakan pengkhianatan terhadap kekuasaan kami.”
Untuk jelasnya, hukuman yang ditetapkan untuk jenis pengkhianatan ini adalah hukuman mati. Jadi saran apakah yang pemerintah Belanda benar-benar terpanggil, tidak lain membunuh semua orang yang berani berbicara tentang Khilafah.
Siapa saja yang menghidupkan di antara penduduk pribumi gagasan sesat yang ada hubungannya dengan Khalifah Turki, pada dasarnya melakukan tindakan pengkhianatan terhadap kekuasaan kami”. Sebuah opini di Koran Het Nieuws van Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 10 Juni 1915

Apakah yang pemerintah Belanda dan para pemimpinnya inginkan untuk mencapai opini ini agar semua orang jelas melihatnya. Mereka ingin menghentikan setiap kontak antara Negara Islam Khilafah dan melarang ide Khilafah dari pikiran kaum Muslim Indonesia.[]

Lingkungan Kita adalah Pikiran Kita

[segerabangkit]
Suatu ketika seorang pria menelepon Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih.Tidak ada lagi yang dimilikinya dalam hidup ini. Norman mengundang pria itu untuk datang ke kantornya.

“Semuanya telah hilang. Tak ada harapan lagi,” kata pria itu.
“Aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini”.
Norman Vincent Peale, penulis buku “The Power of Positive Thinking”, tersenyum penuh simpati.


“Mari kita pelajari keadaan anda,” katanya Norman dengan lembut.

Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih tersisa.

“Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan,” kata pria itu tetap dalam kesedihan.
“Aku sudah tak punya apa-apa lagi.”
“Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?” tanya Norman.
“Hei, apa maksudmu? Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!”
“Kalau begitu bagus sekali,” sahut Norman penuh antusias.
“Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan “Istri yang amat mencintai”.
“Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?”
“Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!”
“Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan “Anak-anak tidak berada dalam penjara.” kata Norman sambil menuliskannya di atas kertas tadi.

Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menangkap apa maksud Norman dan tertawa pada diri sendiri.

“Menggelikan sekali. Betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir dengan cara seperti itu,” katanya.

Kata orang bijak, bagi hati yang sedih lagu yang riang pun terdengar memilukan. Sedangkan orang bijak lain berkata, sekali pikiran negatif terlintas di pikiran, duniapun akan terjungkir balik. Maka mulailah hari dengan selalu berfikir positif.

Tuliskanlah hal-hal positif yang Kita pernah dan sedang miliki dalam hidup ini, bebaskan pikiran-pikiran kita dari hal-hal negatif yang hanya akan menyedot energi negatif dari luar diri kita. Dengan berfikir positif kehidupan ini akan terasa amat indah dan tidaklah sekejam yang kita bayangkan. Objek-objek yang berada di sekitar kita akan sangatlah tergantung dari bagaimana cara kita memandang dan mempersepsikannya. Lingkungan Kita adalah Pikiran Kita. Lingkungan akan berbuat positif kepada Kita jika Kita mempersepsikannya baik, sebaliknya Lingkungan akan berbuat negatif kepada kita ketika kita mempersepsikan sebaliknya.

[Kisah Inspiratif] Elang dan Kalkun

[segerabangkit]
Konon di satu saat yang telah lama berlalu, Elang dan Kalkun adalahburung yang menjadi teman yang baik. Dimanapun mereka berada, keduateman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihatElang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas.

Satuhari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, “Mari kitaturun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudahkeroncongan nih!”. Elang membalas, “Kedengarannya ide yang bagus”.

Jadikedua burung melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lainsedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendaratdekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung,namunsewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekatdengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung manisini”.

Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidakbiasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka denganmudahnya. Elang bertanya, “Mengapa kamu bersedia membagikan jagungmilikmu bagi kami?”. Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanandisini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan”.Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelanludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang TuanPetani.

Sapi menjawab, “Yah, dia menumbuhkan sendiri semuamakanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan”.Kalkun tambah bingung, “Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamusemua yang ingin kamu makan?”. Sapi menjawab, “Tepat sekali!. Tidakhanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal.” Elangdan Kalkun menjadi syok berat!. Mereka belum pernah mendengar halseperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untukmencari naungan.

Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempatitu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini. Kalkunberkata pada Elang, “Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisamendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dangudang yang disana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernahbangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untukdapat hidup.”

Elang juga goyah dengan pengalaman ini, “Saya tidaktahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Sayamenemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapatsesuatu tanpa mbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi danbebas mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dantempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, sayamenemukan hal itu sebagai tantangan menarik”.

Akhirnya, Kalkunmemikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap dimana ada makanangratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintaikemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmatitantangan rutin yang membuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamatberpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbanganuntuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana ke depannya.

Semuanyaberjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang ia inginkan. Diatidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas.Namun suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hariraya Thanks giving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnyajika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu,Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk pergi dari pertanian itu danbergabung kembali dengan teman baiknya, si Elang.

Namun ketikadia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalugemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisamengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Thanks giving keluargaTuan Petani duduk bersama menghadapi panggang daging Kalkun besar yangsedap.

Ketika anda menyerah pada tantangan hidup dalam pencariankeamanan, anda mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan anda…Dan Andaakan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada KESEMPATANlagi…

Seperti pepatah kuno “selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”.